Sabtu, 07 November 2015

Cinta Doremi

“Hei....apa yang kau lakukan!”
Aku yang saat itu sedang asyik mengintip, tiba-tiba lari sekencang mungkin karena suara itu. Aku terkejut. Aku takut ada yang mengenaliku. Namun, disela perjalananku.
“Brukkkk....aduuuhhh.....pinggangku...,” dengan muka meringis aku paksakan diri untuk berdiri.
Lantai begitu licin. Akibat hujan yang turun tadi pagi.
“Hahaha... Beruntung. Tak ada satupun orang yang melihatku terjatuh”. Aku melanjutkan perjalanan menuju kelas.
“Dari mana saja kau, Re?”
“Tadi kepalaku pusing jadi aku istirahat di UKS”.
“Oh, lalu bisakah kau jelaskan kenapa rok kau bisa kotor seperti itu?”, ledek temanku Bobon.
“Hahahaha dasar perempuan jorok?” tambah Bobon.
“Pasti dia terjatuh karena kepalanya pusing tak mampu menopang badannya sendiri.. hahahaa...,” Edo datang dan menyerbuku sambil memperagakan kejadian aku terjatuh tadi.
“Oh, Tuhan. Ternyata mereka melihatku,”bisikku.
“Kenapa kau kaget? Tadi kami bersembunyi ketika kau terjatuh.. hahaha,” ujar Bobon.
Aku tak menghiraukan ledekan basi mereka dan memilih duduk. Walaupun sebenarnya tubuh Bobon yang gempal membuatku ingin mencabik-cabik pipinya yang bagaikan bakpau dikantin itu. Kemudian lonceng terdengar 3 kali itu menandakan waktunya pulang.
****
Akhir-akhir ini, aku sering sekali permisi saat jam pelajaran. Aku selalu mencari alasan agar bisa keluar dari kelas. Sehingga membuat Bu Diah wali kelasku kesal. Aku dituduh malas untuk belajar.  Gara-gara kejadian itu aku tidak berani permisi lagi dalam waktu yang lama. Jika, aku tetap melakukan itu kedua orangtuaku disuruh menemui kepala sekolah. Uhhh.
Aku hanya ingin melihat sesuatu. Sesuatu yang bisa membuatku tersenyum sendiri. Siapa lagi kalau bukan si Romi anak kelas tetangga. Dialah yang membuatku berani melakukan hal yang buruk itu. Pikiranku lepas kontrol. Rasa kagum yang tumbuh makin membara. Suaranya selalu terniang ditelingaku. Lantunan adzan yang terucap dari mulutnya begitu indah.
Kala itu, aku sedang memilih-milih mukena dan tiba-tiba terdiam karena mendengar lantunan adzan yang indah itu. Aku lari dan mengambil posisi paling depan. Aku melakukannya karena mau mengintip siapakah sosok laki-laki yang mengumandangkan adzan tadi. Ku dapati Bobon dan Edo sedang melambai-lambaikan tangannya. Spontan saja, aku membalas lambaian mereka. Aku tak ingin mereka mengetahui tujuanku. Uhh dasar pengganggu.
Sholat berjamaah berjalan dengan khidmat. Pak Sugeng guru matematika selalu menjadi imam kami. Aku menunggu sampai semuanya sepi. Aku ingin bertanya kepada Pak Sugeng siapa yang tadi bertugas mengumandangkan adzan.
“Pak, tunggu!”
“Ya ada apa, Re. Cepat kembali ke kelas sebentar lagi pelajaran dimulai”, nadanya mulai meninggi.
“Sebentar pak, saya mau bertanya tadi yang adzan siapa ya ?”. Aku mulai menggunakan jurus memelasku agar Pak Sugeng iba dan memberitahuku.
“Lihat saja dijadwal adzan, Re. Ya sudah Bapak mau kembali ke kelas lagi.” Pak Sugeng meninggalkanku begitu saja.
“Betapa bodohnya aku, sampai lupa kalau ada jadwal petugas adzan”.
“Hehe,” aku tertawa kecil karena kebodohan itu.
Aku bergegas pergi melihat petugas adzan hari ini.
“Oh namanya Romi”.
Sejak kejadian itu, aku kagum pada “Romi’. Tapi, cukup mengaguminya dalam diam saja. Tak boleh ada satu yang tahu bahwa aku mengagumi Romi. Aku juga tak mau mengungkapkan rasa ini. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya. Aku yakin semuanya kan berakhir indah.
Aku mulai mencari tahu semua tentang Romi. Dia ternyata pemain basket terkenal disekolah. Saat Romi bertanding basket aku selalu menontonnya.  Aku tak ingin kehilangan kesempatan terbaik. Kesempatan bersamanya. Aku bisa leluasa melihat gerak-gerik dan ketangkasan Romi saat bermain basket. Takkan ada orang yang curiga. Itu tontonan umum siapa saja berhak untuk menonton dan terlebih lagi aku adalah salah satu pemain basket jadi wajar saja aku suka menonton pertandingan basket. Aku juga tak pernah menampakkan sesuatu yang aneh. Semuanya biasa-biasa saja. Aku hanya duduk tenang dan memperhatikan. Terkadang aku tersenyum sendiri. Ratna sering menegurku agar aku jangan melakukan hal bodoh seperti tersenyum sendiri itu. Aku mengiyakan perkataan Ratna karena aku takut Ratna tak mau menemaniku lagi menonton. Tapi, tak lama aku mengulangi hal bodoh itu. Ratna tak merespon. Mungkin dia mulai lelah mengingatkanku.
Romi lah alasanku permisi saat jam pelajaran karena pada hari itu kelas Romi pelajaran olahraga. Dia dan teman-temannya selalu bermain basket pada pelajaran olahraga tesebut. Aku tak mau kehilangan kesempatan menyaksikan kehebatan Romi. Aku mempunyai tempat persembunyian agar tak ada yang melihatku. Tepat di balik pohon beringin yang tak berada jauh dari lapangan basket. Tubuhku yang tak terlalu besar tertutupi oleh pohon beringin yang usianya sudah puluhan tahun. Selain tertutupi anginnya yang sepoi-sepoi membuatku semakin nyaman berada dibalik pohon itu. Tapi, karena Bu Diah sudah menegurku. Akhirnya aku menyaksikan walau hanya sepintas saja.
****
Dibulan ini akan diadakan pertandingan basket antar sekolah se-kabupaten. Semua tim basket mengadakan latihan yang lebih intensif. Tim basketku harus menerima kenyataan pahit. Saat diadakan seleksi tim basket putri disekolah, timku harus gugur. Skornya tipis sekali. Aku tak mampu menambah skor. Aku terjatuh. Kakiku terkilir. Aku tak mampu lagi berdiri. Tapi disaat itu Ratna datang bak malaikat. Dia sigap dan membawaku keluar lapangan. Aku tak mengira Ratna yang sifatnya dingin dan terlihat masa bodoh begitu peduli.
“Apa yang kau rasakan, Re”, wajah cemas menyelimuti Ratna.
“Ya sakitlah, Na. Kau lihat saja aku tak bisa berjalan.”
Ratna hanya diam. Mungkin Ratna tersinggung karena ucapanku.
“Ratna, maafkan aku. Tak sepantasnya aku berkata seperti itu seharusnya aku harus berterima kasih padamu karena sudah menolongku”, nadaku mulai melemah. Aku tak kuasa menahan rasa sakit dikakiku.
Ratna tak ada menjawab pertanyaanku. Aku semakin kesal. Ratna menjauh dariku. Tak lama kemudian aku melihat dia sibuk menelpon. Ya sudahlah.
“Ayo, cepat mobil ayahku sudah menunggu didepan, kita akan pergi ke tukang urut”.
Aku hanya bisa mengangguk. Aku tak hentinya mengucapkan terima kasih dan maaf pada Ratna. Terima kasih atas kebaikannya menyembuhkan kakiku dan maaf karena aku sudah salah menilainya. Sejak kejadian itu persahabatan kami semakin dekat. Tapi, walau begitu aku takkan memberitahukan rahasia besar itu kepada Ratna.
****
Seminggu kemudian aku baru bisa sekolah walaupun kakiku belum seratus persen pulih. Selama seminggu ini aku tak bisa berjumpa dengan Romi. Selama seminggu ini juga Ratna rajin main kerumahku untuk sekedar melihatku dan membantuku menyelesaikan tugas-tugas disekolah. Berdasarkan cerita Ratna tim basket putra yang terpilih dari sekolah kami adalah tim basket Romi. Sebenarnya aku sudah tahu pasti tim Romi yang terpilih. Tapi ada satu hal yang membuatku sedikit aneh Edo dimasukkan kedalam tim Romi. Aku meragukannya. Ratna menjelaskan perkembangan permainan basket Edo melesat begitu cepat. Karena itu, Edo terpilih. Aku berdoa semoga saja sekolahku yang memenangkan pertandingan itu.
Rere, harus nonton ya. Tapi, tunggu dulu yang boleh nonton kan kakinya tak boleh pincang. Hahaha”, Edo mulai meledekku.
“Iya, Do.Hahaha...”, tambah Bobon dari kejauhan. Kemudian mereka dengan kompaknya mempraktekan adegan aku berjalan pincang.
Rasanya ingin ku pukul mereka dengan sepatu. Tapi, mereka sudah dulu berlari bagai angin begitu cepat dan sangat cepat. Usahaku lagi-lagi gagal untuk membalas.
Bel berbunyi sebanyak 5 kali itu artinya apel. Semua siswa berkumpul dilapangan membentuk barisan per kelas. Aku kali ini tidak ikut apel karena kondisi kakiku tidak memungkinkan. Aku hanya duduk didepan kelas ikut mendengarkan pengumuman yang disampaikan. Ratna sesekali melambaikan tangan. Padahal, dia ingin menemaniku tapi guru yang piket tak mengizinkan. Mataku kemudian liar. Mencari sesuatu. Dan akhirnya aku berhasil menemukan sesuatu itu. Ya siapa lagi kalau bukan Romi. Romi berada dibarisan paling belakang. Ada harapan kecil dihatiku. Romi menoleh ke belakang sambil tersenyum dan melambaikan tangannya. Ahhh, sudahlah. Dalam waktu 30 menit apel berakhir. Suasana terlalu gaduh. Aku tak bisa mendengar pengumumannya. Aku harus menunggu Ratna kembali kemudian mengintograsinya.
“Ratna, pengumuman apa tadi?”
“Pertandingan basket dimulai besok, Re. Terus dari sekolah kita dikirim 4 tim. 2 tim putri dan 2 tim putra,” jelas Ratna.
“Oh iya kabar selanjutnya final akan diadakan digedung olahraga yang baru, Re. Tapi kalau mau menonton harus beli tiket. Untuk tiket yang biasa berkisar Rp30.000,00 dan VIP berkisar Rp80.000,00.”
“Oh,” nadaku mulai melemah. Tiketnya lumayan mahal. Tak apa. Aku akan menyisihkan uang jajanku. Aku harus menonton pertandingan itu. Harapan untuk ikut bertanding sudah lama pupus. Yang terpenting aku harus melihat Romi bertanding.
Waktunya pulang. Hari ini ayah yang mengantarku pulang. Biasanya Ratna yang melakukannya. Tapi, kali ini aku menolak tawarannya. Aku tak ingin selalu merepotkannya. Walau terkadang wajah Ratna tak pernah terlihat terbebani. Ratna terlihat seperti biasa, bersahaja dan menyenangkan.
****
Tiga hari kakiku benar-benar membaik. Tidak perlu memakai tongkat dan tidak pincang lagi ke sekolah. Aku bisa bernafas lega. Aku pergi ke taman yang tak jauh dari lapangan basket. Kemudian bertahan disana. Melihat orang bermain basket kalau lagi beruntung, aku bisa bertemu dengan Romi. Hari ini aku hanya melihat Edo. Dia sesekali melihatku. Melemparkan senyum yang biasa saja. Lalu beberapa menit kemudian Romi datang. Pesona Edo redup. Teman-temanku berteriak histeris. Berusaha memanggil nama Romi. Romi balas dengan senyum tanpa berkata. Itu saja bagi mereka sudah cukup. Senyum yang menyejukan tidak seperti senyum Edo. Aku sedikit kesal dengan tindakan teman-temanku yang nekat mendekat menyaksikan Romi bermain. Aku saja dari tadi sudah menunggu kedatangannya, tapi tetap menjaga jarak. Oh, Tuhan. Biarkan saja.
Tiba-tiba saja Edo dan Romi datang. Jujur saja jantungku seperti berhenti bekerja. Tidak pernah sedekat ini. Mataku terbelalak. Lalu bagaimana dengan wajahku. Akankah dia mengeluarkan rona merah itu. Lalu, aku berusaha mengendalikan semuanya. Aku harus sadar. Ratna hanya bisa terdiam sambil memegang roti yang dari tadi tidak habis-habis.
“Hei, kau dan Ratna jangan sampai tidak menonton kami ya,” ujar Edo.
Pupus. Hanya Edo yang bersuara. Romi tetap terdiam dengan senyumannya. Imajinasi dan impianku terlalu tinggi. Bagaimana mungkin bisa. Romi sama sekali tidak mengenaliku. Tapi, tidak sebaliknya. Aku mengenalinya sebegitu detail. Tidak adil. Ya sudah. Aku tetap bahagia bisa melihat senyumnya sedekat ini. Lebih dekat daripada teman-temanku tadi. Mereka berlalu begitu saja.
****
Hari yang ditunggu-tunggu datang. Kesempatan terakhir melihatnya bertanding. Tamat SMA, Romi akan melanjutkan pendidikan diluar kota. Aku pasti susah untuk bertemu dengannya lagi. Hari ini aku bangun lebih awal. Aku masih bingung menentukan baju apa yang harus ku kenakan. Hampir satu jam aku menghabiskan waktu dengan percuma. Mataku berhenti mencari saat ku dapati kaos berwarna biru muda dengan motif kotak-kotak. Tanpa berpikir lama, aku raih kaosnya.
Ayah dan ibu merasa aneh dengan sikapku hari ini. Aku terlalu sering tersenyum sendiri. Aku tak perduli. Nanti juga mereka tahu kenapa aku seperti ini. Ratna hari ini berjanji menjemputku dengan mobil. Dia tidak ingin penampilanku hari ini terkena debu-debu jalanan. Tidak mengizinkanku berpanas-panasan dengan sepeda motor milikku.
“Kau tunggu saja baik-baik dirumah sebentar lagi aku sampai. Putri cantikku”.
Ratna. Dia membuatku tersipu malu.
Waktu terus berlalu. Sudah satu jam lebih aku menunggu. Ratna belum juga datang. Aku mulai panik. Pertandingan akan segera dimulai. Romi pasti sudah ada disana. Aku ingin segera menyaksikannya. Teganya Ratna merusak hari spesialku. Pesan singkat dari Bobon menyuruhku agar cepat datang. Kalau tidak ada yang mengantar aku mau menjemputmu. Lalu bagaimana dengan Ratna. Haruskah aku meninggalkannya. Apa mungkin dia sudah datang dipertandingan itu. Apa mungkin selama ini dia menyukai Romi juga sehingga aku tidak diizinkan menonton. Apa yang harus aku lakukan. Waktu semakin cepat berjalan. Beberapa kali ayah dan ibu menanyakan hal yang sama.
“Apa perlu ayah yang antar kesana?.”
Aku selalu menggelengkan kepala. Artinya tidak. Akhirnya ayah dan ibu meninggalkan aku. Mereka mau pergi ke rumah nenek. Kebetulan nenekku sakit. Aku tidak begitu menghiraukan mereka. Aku hanya memperhatikan jam ditanganku dan handphoneku. Sekarang kaosku mulai lusuh sama seperti wajahku. Aku berusaha menghubungi Ratna tapi, tidak ada jawaban. Aku tidak mungkin pergi sendiri tanpa Ratna. Tapi, kalau tidak aku akan kehilangan hari spesialku ini. Aku harus memilih.
“Maafkan aku, Na. Aku pergi sendiri.”
Aku terpaksa harus naik angkutan umum. Ayah dan ibu terlanjur pergi. Ahh. Cobaan demi cobaan datang. Lima belas menit kemudian angkutan umumnya datang. Hatiku mendongkol. Aku tidak akan pernah memaafkan Ratna kalau hari spesialku ini berantakan. Aku membencinya. Tak lama kemudian aku sampai. Tepat digedung pertandingan Romi. Aku harus cepat sebelum semuanya berakhir.
Terlambat. Aku benar-benar kecewa. Hari spesialku berakhir. Pertandingan telah usai sepuluh menit yang lalu. Aku tidak bisa berjumpa dengan Romi. Didetik terakhir ini. Bahkan aku sendiri tanpa Ratna. Aku ingin teriak sekencang-kencangnya. Aku gagal. Usahaku selama ini sia-sia. Tiba-tiba ada air yang mengalir begitu deras dipipiku. Aku tidak bisa menahannya. Ya, air mataku jatuh tak terbendung. Apa ini. Aku harus menerima kenyataan yang begitu menyakitkan.
“Dek, jangan sedih ya kan masih ada tahun depan. Perbaiki saja strategi permainannya.”
Kakak itu hampir saja membuatku tertawa. Padahal aku bukan menangisi pertandingan tadi. Aku menangisi hari spesialku berakhir tragis. Uhh.
“Hei, tadi Edo titip salam. Tim kami kalah karena kau tidak datang saat pertandingan tadi. Dia tidak semangat seperti biasanya”.
Aku terdiam.
“Aku Romi. Teman basket Edo. Edo sering menceritakan tentang kau. Katanya sih kau wanita paling cerewet. Hahaha. Kenapa kau menangis?”
“Diam. Kau tidak perlu tahu. Mana Edo?”
“Dia sudah pulang. Kakinya tadi patah karena terjatuh waktu bertanding. Ya, sudah aku pulang dulu. Lanjutkan saja menangisnya. Bye”.
Tuhan, apalagi ini. Aku semakin binggung. Baru saja dia. Dia menghampiriku. Rasanya tidak mungkin tapi, ini benar terjadi. Romi hanya sekedar menghampiriku dan mengatakan hal sekonyol itu. Hal yang sama sekali tidak penting. Tidak ada hubungannya dengan hari spesialku. Hari spesial kita. Aku terlalu terobsesi. Aku terlalu berharap Romi bisa merasakan hal yang sama sepertiku. Lalu ada apa dengan Edo, diam-diam mengagumiku. Aku benci. Bukan ini yang aku mau dihari spesialku. Aku sama sekali tidak suka Edo. Bahkan aku tidak bisa berbicara yang baik dengan Romi. Aku membentak-bentaknya. Ohh.
Tubuhku lemas.
“Re, ini papanya Ratna. Kamu bisa kesini? Ratna mengalami kecelakaan hebat tadi sewaktu mau menjemputmu. Dia membutuhkan darah dan saya tahu darah kamu sama seperti Ratna”.
Pesan singkat itu membuat semuanya semakin gelap. Aku tidak bisa merasakan apapun. Hanya gelap dan hening.
Ketika terbangun, aku sudah dirumah. Ada ayah, ibu dan benar saja ada Romi dihadapanku. Mataku terbelalak. Ayah mengatakan bahwa aku tadi pingsan dan Romi yang membawaku kerumah. Oh Tuhan. Satu sisi aku bahagia bisa bersama Romi walaupun aku tidak menyadarinya. Satu sisi lagi aku teramat sedih mendengar kondisi Ratna. Romi pamit pulang. Papanya menyuruh Romi ke bandara. Dia harus pergi. Air mataku menetes. Kebersamaan yang teramat singkat. Aku ingin menahannya. Mulutku bisu. Tanganku kaku. Ingin ku katakan selamat jalan Romi. Semoga kita bisa bertemu lagi. Terima kasih untuk hari spesialnya. Tapi, tidak. Biarlah. Jika dia memang jodohku, kita akan berjumpa lagi. Memang cinta tak selamanya harus memiliki. Ya mengagumi dalam diam sudah cukup. Aku bahagia. Sudahlah. Biar semuanya jadi cerita indah di masa putih abuku. Cinta sejati akan hadir disaat yang tepat dan dengan orang yang tepat..
Sebulan kemudian Ratna sembuh. Aku bahagia. Wajahnya yang bersahaja kembali. Ratna sudah bisa tersenyum dan memegang tanganku begitu erat. Dia meminta maaf karena hari spesialku berantakan. Aku menggelengkan kepala artinya tak apa semua sudah digariskan Tuhan manusia hanya bisa berencana tapi, Dialah yang menentukan. Semua yang terjadi di hari itu aku ceritakan pada Ratna.
“Rere suka Romi eh malah Edo yang suka Rere. Jadinya Cinta Doremi dong. Do itu Edo, Re itu Rere dan Mi itu Romi. Hahaha,” ledek Ratna.
Aku hanya tersipu malu.
****