Hari ini matahari ku tatap teramat menyilaukan mungkin karena sudah menunjukkan pukul12.00 siang. Rasanya ingin segera ku serbu minuman dingin yang berada diseberang tempat ku berdiri. Tapi, kalah cepat dengan datangnya angkutan umum sehingga harus ku lupakan minum dingin itu dan segera menghampiri angkutan umum. Rasa haus yang ku rasa kian menjadi-jadi saat ku lirik seorang adik bertubuh gempal berseragam putih merah. Adik tersebut sedang menikmati sepotong es krim.
"Hei, kamu sedang haus?" salah satu penumpang memukul pundakku. Aku terkaget.
"Ini ambil saja minumku. Dari tadi kamu melihat adik itu".
"Aku tersipu malu. Iya terima kasih ya, kak". Aku tak kuasa menolak tawaran kakak cantik itu. Sebentar saja minum itu habis.
"Nama adik siapa?".
"Aisyah. Tapi, panggil saja iyah. Nama kakak cantik siapa?".
"Ahh kamu bisa saja, nama kakak Meilani."
Belum sempat bercerita banyak kakak cantik itu turun terlebih dahulu. Walaupun begitu kami sempat bertukar nomor handphone. Pesan dari kak Mei kalau perlu bantuan jangan malu-malu hubungi nomor kakak.
Tiga puluh menit berlalu, kosku sudah terlihat. Kuliahku hari ini sudah cukup. Masak, beres-beres rumah, sholat dan istirahat sebentar sebelum mengerjakan tugasku. Tugas menjadi seorang guru mengaji dimushola dekat kos daripada waktuku terbuang percuma. Memang hasilnya tak seberapa tapi, aku tetap menyukainya. Aku bisa bertemu dengan adik-adik yang lucu dan bisa berbagi ilmu. Jumlahnya tak banyak sekitar 10 anak.
Sampai selesai sholat magrib baru aku pulang ke kos. Sejak SMP aku jauh dari orang tua. Aku ingin belajar mandiri. Awalnya ibu tak mau melepaskan aku untuk jauh darinya, wajar saja aku ini anak semata wayangnya. Untung ayah bisa menaklukan hati ibu sehingga ibu luluh. Ayah dan ibu menyuruhku untuk tinggal bersama nenek. Agar ada yang mengawasi dan mengurusiku. Aku setuju. Selama ini nenek orangnya baik. Waktu yang ku tempuh ke rumah nenek cukup jauh menghabiskan satu hari penuh. Ayah dan ibu menyewa mobil untuk membawa semua peralatanku. Hatiku begitu bahagia. Niatku berhasil terlaksana dengan baik. Sesampainya dirumah, nenek menyambut hangat kedatangan kami. Nenek meminta ayah dan ibu ikut menginap selama beberapa hari dirumahnya. Nenek juga tidak mengerti masalah pendaftaran sekolahku.
Seminggu berlalu. Aku mulai memakai seragam baru. Seragam putih biruku.
"Ayo, iyah sarapan dulu. Ini nenek sudah buatkan nasi goreng".
Aku tak menjawab panggilan nenek. Aku masih sibuk menyisir rambutku. Sesekali aku melamun teringat akan ayah dan ibu. Mungkin karena baru tiga hari ini mereka kembali ke kampung. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku.
"Iyah, ayo cepat sarapan nanti kamu terlambat pergi ke sekolah barumu".
"Iya, nek. Sebentar lagi rambutku masih belum rapi".
Nenek tersenyum. Kemudian meninggalkanku.
Tak lama kemudian aku menghampiri meja makan dan menghabiskan nasi goreng ala nenek. Nenek sungguh baik. Beliau merawatku dengan kasih sayang. Walau terkadang sedikit garang kalau aku tak menuruti kemauannya. Tak masalah bagiku karena nenek tak mau sesuatu yang buruk terjadi padaku. Hinggaku berseragam putih abu nenek masih setia menemaniku. Nenek adalah teman curhat terbaikku setelah ayah dan ibu. Tak pernah ada yang aku tutupi dari nenek. Sampai aku menceritakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Jatuh cinta dengan kakak kelas saat aku SMA. Nenek hanya menyarankan kepadaku untuk menyimpannya saja. Mencintai dalam diam. Bagiku pun tak masalah. Saran nenek aku terima. Masa putih abuku berakhir dan kisah cinta itupun berakhir. Biarlah kalau jodoh tak kemana itu kata ayah.
Sekarang aku tak merasakan indahnya masa putih biru dan putih abu seperti waktu itu. Rumah nenek sudah dijual. Aku yang menyuruh ayah dan ibu untuk menjualnya. Karena aku tak mau tinggal disana. Ayah dan ibu tak banyak bicara. Pertanda mereka setuju denganku. Aku memilih tinggal dikos yang tidak begitu besar didekat kampusku. Saat aku kuliah disemester ketiga nenek meninggalkanku. Nenek jatuh pingsan saat aku dikampus kemudian tak sadarkan diri. Ku temui nenek tergeletak dikamarnya sudah tak bernyawa. Aku tak bisa menahan tangisku. Aku berteriak sekencang-kencangnya. Membuat tetangga berdatangan kerumahku. Setelah mereka datang aku tak mengingat apa pun. Ternyata aku pingsan. Disaat aku terbangun ku dapati ayah dan ibu sudah ada disampingku. Aku kaget. Kenapa ayah dan ibu begitu cepat sampai kerumah. Ibu menjelaskan bahwa ibu memang sudah ada diperjalanan menuju rumah nenek. Mereka sengaja tak memberitahu aku dan nenek. Ibu bilang ini kejutan dihari ulang-tahunku. Ternyata semua tak seindah yang mereka bayangkan. Buruk. Takdir Tuhan berkata lain. Ayah berusaha menenangkanku. Ayah memang pandai meluluhkan hati siapa saja termasuk aku. Hatiku jauh lebih tenang.
Seminggu ini ayah dan ibu menemaniku tinggal dirumah nenek. Sampai aku bisa terbiasa semuanya tanpa nenek. Dan akhirnya memilih tinggal di kos sendirian.
Semuanya berjalan begitu saja. Kakak cantik yang waktu itu ku jumpai diangkutan umum menjadi teman curhatku setelah kehilangan nenek. Kak Mei sering berkunjung ke kos ku. Tapi, sayang kak Mei tak pernah mengizinkanku main kerumahnya. Katanya sih karena rumahnya terlalu berantakan. Tapi, menurutku itu bukan masalah yang serius. Yasudahlah.
Hari ini aku beranikan diri untuk bercerita pada kak Mei. Aku sudah tidak bisa menahan lama lagi. Aku terjebak pada perasaan. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Rafli datang dikehidupanku lagi. Sejak semester 5, aku menyukainya. Begitupun dengan Raflu. Tapi, Rafli tak mau mengajakku untuk berpacaran. Selama ini kami hanya berteman sewajarnya saja. Rafli sudah tamat terlebih dahulu dibanding aku dan langsung bekerja di suatu perusahaan. Rafli anak orang kaya, pintar dan taat pada agama. Wajahnya tak begitu tampan tapi tetap terlihat istimewa bagiku. Sejak kuliah pun dia sudah bekerja. Setahun berlalu Rafli tanpa kabar. Tak pernah ada komunikasi sama sekali. Dua hari kemarin aku berjumpa dengannya. Dia memanggilku.
"Iyah, ini aku Rafli. Kemana saja kamu? Nomermu tak pernah aktif".
Aku masih tak percaya. Aku pukul tanganku ternyata sakit. Aku tak bermimpi.
"Jadi ini benar kamu, li? Handphoneku hilang. Jadi semua nomer hilang termasuk nomermu. Aku ingin sekali menghuhungimu tapi sayang aku tak tau ingin bertanya pada siapa".
"Iya ini aku. Oh ya sudah tak apa. Bagaimana dengan kuliahmu?".
"Dua hari lagi aku wisuda, li."
"Tolong tulis disini alamatmu ya, yah. Ada sesuatu yang akan aku bicarakan".
"Kenapa tidak sekarang?".
"Tidak. Ini persoalan serius. Aku ingin kamu membantuku untuk pesta pernikahanku."
Hatiku sedikit gemetar. Ada goncangan. Ada sesak. Entahlah. Rasa itu masih ada.
"Baiklah".
Kak Mei meminta izin pergi ke wc. Cerita terpotong. Aku membeli makan siang diwarung. Selesai makan siang dan sholat bersama, cerita berlanjut.
Selama setahun kepergian Rafli, aku bertemu seorang lelaki. Lelaki itu bernama Idris yang tak lain dan tak bukan adalah kakak kelas SMAku dulu yang pernah aku kagumi dan tak terungkap. Dia datang di kehidupanku. Kami bertemu ditoko buku. Saat itu kami membeli buku yang sama. Bukunya hanya bersisa satu. Kak Idris memberikannya untukku begitu saja. Semenjak itu aku dan kak Idris sering berkomunikasi. Memberi warna. Semakin lama aku menyayanginya. Setelah wisuda nanti dia berjanji akan menikahiku. Ayah dan ibu juga setuju dengan niat kak Idris. Dia dewasa, agamanya baik, memang tak sekaya Rafli, humoris dan wajahnya memang tipeku. Tapi, kenapa ketika Rafli datang hatiku menjadi ragu. Kak Mei memberi saran agar aku segera melupakan Rafli dan tetap memilih kak Idris. Nasihatnya aku turuti.
Pagi ini Rafli datang ke kos ku. Aku membantunya dalam memilih perlengkapan pernikahan serta konsep pernikahannya. Setelah semuanya selesai Rafli membuat ku serasa berhenti bernafas. Semua perlengkapan dan konsep pernikahan ini ternyata untuk kami. Ya untuk pernikahan kami. Rafli meminta aku untuk menjadi pendampingnya. Oh Tuhan. Apa yang harus aku lakukan. Aku tak bicara. Hanya meneteskan air mata. Wajah gembira Rafli ada dihadapanku. Akankah aku merusaknya. Aku harus tegas.
"Maafkan aku, kamu terlambat. Bacalah ini."
"Apa, kamu akan menikah?".
"Iya, li. Selama kamu menghilang aku mengira kamu sudah memilih hidup dengan yang lain. Aku bertemu kak Idris yang mengubah seluruh kehidupanku. Aku menyayanginya".
"Aku pulang".
Rafli meninggalkanku begitu saja. Bunga dan cincin yang hendak dia berikan tertinggal diatas meja tak dibawanya.
Waktu terus berlalu. Wisudaku terlaksana dengan baik. Kak Idris bersamaku. Dua hari lagi kebahagiaan itu datang. Aku akan menikah. Tapi kak Mei menghilang bersama hilangnya Rafli. Aku sungguh sedih, kak Mei orang yang selalu setia membantuku tak hadir di hari-hari istimewaku. Usaha mencarinya sudah aku lakukan sampai aku jatuh sakit. Ayah, ibu dan kak Idris berusaha menguatkanku. Cincin dan bunga yang Rafli beri aku serahkan pada ibu, agar beliau menyimpannya.
Tibalah hari yang ditunggu. Hari istimewaku. Ibu mengatakan aku sangat cantik dengan busana pengantinku begitu juga dengan kak Idris. Kami seperti raja dan ratu. Pesta berjalan dengan lancar. Benar saja kak Mei tak ada.
Seminggu setelah hari pernikahan kami, ketika aku sedang makan siang bersama kak Idris, Rafli datang. Aku takut. Akan ada pertengkaran. Kak Idris menenangkanku.
"Tak kan ada masalah percayalah padaku".
Aku menyuruh Rafli duduk. Aku terpaksa meninggalkan kak Idris dan Rafli berdua saja diruang tamu karena aku harus membuatkan minum.
Mereka terlihat begitu akrab dan tertawa bersama. Aku bingung. Apa yang mereka bicarakan.
Tak lama kemudian minum selesaiku buat beserta pisang goreng. Rafli tersenyum melihatku.
"Selamat ya atas pernikahanmu. Memang kak Idris lebih pantas untukmu, yah. Kesalahanku dulu menghilang tidak bisa ku salahkan. Takdir Tuhan ku yakin yang terbaik. Maaf kemarin aku pergi saja meninggalkanmu. Aku sungguh bersedih. Hatiku begitu kacau. Takdir begitu tak adil bagiku. Tuhan menguatkanku sehingga aku bisa menapakkan kakiku dirumah kalian."
Aku tak bisa berkata. Aku hanya menatap kak Idris. Aku bingung.
"Dia telah memaafkanmu, li. Ini yang terbaik dari Tuhan. Yakinlah kamu akan menemui bahagiamu juga. Sabarlah menunggu".
Kak Idris merangkul Rafli. Aku hanya bisa berdiri disamping mereka duduk. Aku terasa membeku.
Tak lama kemudian Rafli meminta izin pulang setelah menghabiskan teh dan sepotong pisang goreng.
"Cincin yang kamu berikan ada pada ibu, ambillah."
Rafli tersenyum kemudian pergi.
Kak Idris datang. Aku memeluknya. Dia hanya tersenyum. Untunglah dia bisa membantuku menjelaskan pada Rafli.
"Ini ada surat untukmu, yah. Tadi pagi pak pos mengantarkannya".
"Dari siapa?".
"Buka saja nanti juga tahu, yah."
Surat itu tertuliskan "kak Mei".
Yah, maafkan kakak. Kakak menghilang dan meninggalkanmu. Waktu pertama kita bertemu kakak merasa kamu anak yang baik. Kamu cantik. Kakak suka sekali kamu menganggap kakak seperti kakakmu sendiri. Kakak memang tertutup tentang keluarga kakak. Karena kakak tak tahu asal-usul keluarga kakak. Kakak tinggal di panti asuhan dari kecil. Itu sebabnya kakak tak mau memberitahumu. Maafkan kakak. Kakak tak bisa menyaksikan hari istimewamu itu. Kakak terlalu sakit menyaksikannya. Kak Idris itu orang yang pernah kakak cintai dengan sepenuh hati. Dia pernah mengisi hari-hari kakak. Sewaktu kuliah kami pernah bermimpi setelah kuliah dan bekerja kami akan menikah. Kemudian kakak memutuskan meninggalkannya. Karena kakak yakin setelah dia tahu keadaan kakak yang sebenarnya kak Idris akan meninggalkan kakak. Kakak sudah banyak berbohong. Akhirnya kisah kami berakhir. Sehari sebelum pesta pernikahanmu kakak tak sengaja melihat sepintas Kak Idris saat dia kekosmu. Kakak baru tahu ternyata Idris calon suamimu itu orang yang pernah kakak cintai. Kakak tak pernah bisa menemanimu bertemu dengan kak Idris karena sering berbenturan dengan jadwal kerja kakak. Kakak yang tadinya mau kekosmu mengurungkan diri. Kakak tak mau merusak kebahagiaanmu. Tak mau membuatmu pusing lagi setelah kehadiran Rafli. Kakak takut nanti kak Idris juga bingung sepertimu. Akan memilih kamu atau kakak. Tapi kakak yakin dia akan memilihmu. Sekali lagi maaf ya iyah. Kakak yakin ini yang terbaik. Semoga kamu dan kak Idris langgeng sampai kakek dan nenek. Dikaruniai anak yang sholeh dan sholeha. Kalian berdua cocok. Kakak tidak marah padamu. Jangan coba cari kakak. Kakak sekarang sudah bahagia dengan pilihan dan hidup kakak. Salam rindu dan sayang untukmu adikku Aisyah.
"Ini sudah takdir. Ketahuilah takdir Allah adalah takdir yang terbaik untuk kita umatnya. Biarkan masa lalu itu ada. Hanya sebatas untuk pelajaran dan kenangan saja. Aku tak akan mengingat masa lalu. Karena aku hidup untuk masa sekarang. Masa dimana aku telah ditakdirkan bersamamu bukan hidup bersama masa lalu. Jadi tenanglah. Aku takkan berpaling. Aku hanya menyayangi dan mencintai satu wanita saja yaitu kamu, Aisyah."
Lagi-lagi aku tertegun. Kak Idris bukanlah orang yang puitis. Tapi tiba-tiba saja dia berkata bak seorang pujangga cinta.
"Terimakasih Tuhan, tak akan ku sia-siakan pemberianMu ini. Akan ku jaga dia sebaik-baiknya." Kak Idris tersenyum kemudian senyumku tak lama menyusul.
Hujan turun begitu derasnya. Menutup perbincangan kali ini.
Selasa, 28 Juli 2015
Maafkan aku kakak cantik
Minggu, 26 Juli 2015
"Ketika aku ditanya"
Cinta..
Kata yang hanya terdiri dari 5 huruf ini sangat sering diperbincangkan. Baik dikalangan anak-anak sampai orang tua sekalipun. Tak ada yang tahu secara pasti defenisinya. Setiap pendapat yang dikeluarkan sungguh bervariasi. Ketika pertanyaan itu menghampiriku, aku bingung dan ragu apa yang harus aku jelaskan. Apa itu cinta?
Ahhh. Aku tak mau menjawab tapi, sang penanya memaksaku. Dengan menelan ludah aku mulai membuka mulutku.
Begini, menurutku cinta itu sederhana. Aku terdiam lagi. Sang penanya bingung. Apa kata-kata selanjutnya, cepat lanjutkan lagi aku mau mendengarnya. Kata-kata itu lagi-lagi memaksaku untuk melanjutkan.
Iya cinta itu sederhana, sesederhana kita mencintai seseorang yang tak perlu banyak alasan. Jawabanku membuat sang penanya terdiam sejenak. Tak bertahan lama. Lalu apa kamu pernah merasakan cinta?. Sejak kita lahir ke dunia ini cinta telah hadir dikehidupan kita. Cinta ini tak hanya sederhana tetapi juga bersifat luas. Cinta terhadap Pencipta, keluarga, teman, bahkan sesama makhluk hidup. Ya tentunya aku pernah merasakan cinta.
Lalu bagaimana dengan jatuh cinta?
Dia menambahkan pertanyaan lagi. Iya sebenarnya sama saja seperti cinta. Tapi kalau jatuh cinta ini sering ditujukan cinta pada lawan jenis. Aku juga pernah merasakannya. Rasa itu datang begitu saja. Tak ada yang bisa mengira kedatangannya. Berkali-kali aku berusaha untuk menghindarinya dan hasilnya kegagalan. Rasa itu akan terus ada dan tak mungkin bisa hilang. Lalu bagaimana dengan patah hati?. Patah hati pun pernah aku rasakan. Ketika datangnya sebuah kebohongan demi kebohongan. Membuat semua rasa cinta itu berantakan. Sakit sungguh sakit saat sebuah rasa yang benar tulus harus berbalas kebohongan. Semenjak itu aku tak mau terjebak pada rasa itu. Aku pergi sejenak dan akan kembali ketika rasa itu datang diwaktu yang telah dijanjikan Tuhan dan bersama seseorang disana yang sudah tergariskan untukku. Sang penanya hanya bisa terdiam. Tak lama dia mengucapkan terimakasih. Lalu berlalu begitu saja.