Rabu, 18 Maret 2015

Kotak Merah Jambu


Tengg...tengg....tengg...
Bunyi yang kerap terdengar saat jam pelajaran usai. Seperti biasanya siswa-siswi bersigap untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Bak tentara yang ingin maju ke medan perang. Semuanya membeludak. Berbondong-bondong. Membuat area sekolah menjadi sesak, padat bahkan tak terlihat ada ruang kosong disana. Aku mencoba menghindarinya. Aku lebih memilih untuk bertahan diruangan kelas ini sampai semuanya sepi. Dan semua sudut sekolah menjadi hening. Terkadang aku merasa sedikit aneh pada diriku sendiri. Aku tak begitu tertarik dengan dunia luar yang penuh keramaian.
“Apakah ada yang sama sepertiku menghindari semua hal itu?” tanyaku sambil merenung.
Pertanyaan yang selalu muncul didalam pikiranku setiap kali aku menunggu berakhirnya keramaian. Tapi, aku selalu beranggapan bahwa itu hal yang wajar-wajar saja.
“Tam, kamu mau menunggu sampai berapa lama lagi disini?” sahut temanku yang terlihat terburu-buru ingin pulang.
“Sampai semuanya sepi” jawabku sambil mengawasi keramaian yang nampaknya belum berakhir.
Tanpa ada jawaban temanku pergi entah kemana. Dia adalah orang yang selalu bertanya setiap kali aku menunggu. Dia juga akan menghilang begitu saja. Terlihat aneh. Tapi, aku tak tertarik untuk mencari alasannya karena menurutku itu tidak penting. Dia selalu memanggil namaku dengan sebutan “Tam”. Itu panggilan teraneh. Tak ada satupun orang yang  memanggilku seperti itu. Dan tanpa seizinku dia tetap memanggilku “Tam”. Aku pun terpaksa menyetujuinya. Lupakan saja dia.
            Namaku sebenarnya adalah Zakiyah Kusuma Ramadhani. Aku adalah anak kedua dari pasangan Pak Cahyo Kusuma dan Ibu Widiasti Wijaya. Aku mempunyai seorang kakak yang bernama Baskoro Wijaya. Kakakku adalah pemain basket terhandal di sekolahnya. Selalu mengikuti turnamen dan dia berhasil menjadi pemain terbaik. Kakak yang hebat dan selalu menjadi kebanggaanku. Sedangkan adikku bernama Dimas Wijaya. Dia adalah master matematika disekolahnya. Dia pun sering memenangkan olimpiade. Terakhir kemarin dia ikut olimpiade sampai keluar negeri. Semua anak ayah dan ibu berprestasi tapi, bagaimana denganku. Aku tak mempunyai prestasi yang harus dibanggakan. Sedih. Aku berharap suatu saat aku akan menemukannya. Keluargaku dan teman-teman yang lain biasa memanggilku dengan sebutan “Kiki” atau “Iyah”. Aku selalu tampil apa adanya dan tidak suka keramaian. Ya, keramaian.
Nampaknya matahari semakin menyala-nyala. Hampir saja mengeluarkan semua tenaganya. Sehingga ketika sang matahari mengenai kulit bisa merubahnya menjadi lebih gelap. Semuanya telah lenyap. Keramaian itu berakhir. Huh. Waktunya untuk pulang.
Sepeda motorku masih tertata rapi diparkiran. Letaknya pun masih sama persis seperti pagi tadi ketika aku memarkirkannya. Dengan berlenggok-lenggok sambil bernyanyi kecil aku menghampiri sepeda motorku. Temol. Itu nama sepeda motor kesayanganku. Warnanya hitam. Ayah sengaja mengganti semua warna yang ada dimotorku menjadi hitam. Hingga sekarang aku tak pernah tahu apa alasannya. Aku hanya menerima saja. Sebab sepeda motor itu dibeli menggunakan uang ayah. Aku pun juga menyukai warna itu. Tak ada masalah. Tak ketinggalan helm ku pun berwarna hitam. Semua barang-barangku kebanyakan berwarna hitam. Walaupun aku ini wanita.
“Ayo sayang kita pulang, aku sudah tak sabar menyiyipi masakan ibu hari ini” dengan semangat yang membara-bara sambil melirik si Temol motor hitam kesayanganku.
Laju sepeda motorku begitu kencang. Maklum saja hari sudah semakin siang dan gerakan dari cacing-cacing diperut membuatku sedikit panik. Mungkin seandainya cacing-cacing itu bisa berbicara tentunya dia akan marah. Bahkan bisa saja mengngamuk. Lapar. Lapar. Tapi memang Tuhan itu Maha Adil. Semuanya sudah berjalan dengan sewajarnya.
Tanpa banyak basa-basi aku letakkan saja si Temol dikamarnya. Garasi. Kemudian melepaskan kedua kaoskaki hitamku. Meletakkan tas hitamku. Dan mengganti seragamku dengan kaos berlengan panjang berwarna hitam. Semuanya telah siap. Saatnya aku menghampiri ruangan kesukaanku. Ruang makan. Hmmmmm.
Makan, makan dan makan. Hanya itu yang ada dipikiranku saat masih disekolah tadi. Benar saja ayah, ibu, kakak, dan adikku sudah menunggu kedatanganku. Kami memang sering melakukan makan bersama. Walau terkadang makan sendiri-sendiri pun tak masalah. Yang penting harus makan. Itu pesan ayah dan ibu yang wajib dan harus dipatuhi. Jika tidak kami harus menerima konsekuensi. Kami mendapat hukuman. Yaitu harus melakukan semua pekerjaan ibu. Tak ada pengecualian. Itu perjanjian. Jadi, harus dilaksanakan.
Nampaknya makan siang kali ini ayah memilih topik untuk membicarakan aku. Walau sebenarnya aku sedikit kesal. Apa yang bisa aku perbuat. Aku pura-pura saja tidak mendengar perkataan ayah yang mulai mengarah kepadaku itu. Aku masih sibuk menyantap soto ayam buatan ibu yang tiada tandingannya itu. Namun, ayah tidak pantang menyerah. Ayah melakukan genjatan senjata secara liar. Aku bagaikan terperangkap jebakan ayah. Aku pasrah. Aku tidak berontak. Menyerah. Ayah berhasil.
Setiap kali aku menjawab pertanyaan-pertanyaan ayah yang sepertinya memojokkan aku dan mengolok-olokku itu selalu terdengar tawa yang samar-samar. Tak lain dan tak bukan itu tawa dari ibu, kakak dan adikku. Mereka berharap akan mendapat hiburan saat makan siang. Memang setiap kali aku yang menjadi topik pembicaraan, mereka semua terlihat begitu bahagia. Iya. Bahagia karena bisa menertawai aku. Menertawai nasibku yang penuh keanehan.
“Bagaimana sekolahnya tadi anak kesayangan ayah? Apa ada keanehan lagi?” ayah melanjutkan pertanyaannya sambil menahan tawanya.
“Ayah, aku kan sudah besar jangan panggil seperti itu lagi. Hari ini tidak ada yang aneh” aku mulai terpojokan dan aku berusaha ingin mengakhiri perbincangan ini.
Ayah selalu memanggilku dengan sebutan anak kesayangannya. Lagi-lagi tawa itu terdengar olehku, namun kali ini lebih keras. Memang diantara anak ayah dan ibu akulah yang sedikit manja. Hanya sedikit. Aku lebih suka menghabiskan waktu bersama ayah dan ibu dibanding bersama kakak, adik bahkan temanku.
Selama perbincangan itu berlangsung mereka hanya membahas bahwa aku adalah anak mereka yang paling cantik. Bagaimana tidak kakak dan adikku itu kan anak laki-laki. Konyol. Sesuatu yang sangat tidak penting untuk dibahas. Aku hanya duduk terpaku. Melihat soto ku yang sudah tak bersisa membuatku semakin bosan. Aku ingin lari.
Yah, aku permisi ke kamar mandi. Sakit perut.”aku mencoba mencari-cari alasan. Aku berdiri sambil memegangi perutku agar penyamaranku berjalan lancar.
Ayah, bohong itu dosa kan?” ibu menjawab dengan sedikit nada menyindir.
Iya dosa besar, Bu” ayah menjawab penuh dengan semangat.
Niat jahatku ini rupanya telah diketahui ibu. Gagal. Aku memutuskan untuk tetap bertahan.
Ya sudah kalau begitu hari sudah semakin siang. Ayo bantu ibu kalian membereskan tempat makan ini. Setelah itu jangan lupa kewajiban kalian shalat dzuhurnya,” ujar ayah untuk mengakhiri perbincangan yang aneh.
Akhirnya Tuhan mengabulkan permohonanku. Perbincangan kali ini berakhir begitu cepat. Mungkin Ayah sudah menyadari tingkahku yang semakin bosan mendengar perbincangan itu. Terima kasih ayah. Betapa bahagianya. Aku terbebas.
Semua tugas telah selesai aku laksanakan. Saatnya aku bermalas-malasan dikamarku yang bernuansa hitam. Aku selalu melakukan ini setiap hari. Menghabiskan waktuku dikamar sampai ibu memanggilku untuk melaksanakan tugas soreku. Menyapu halaman, menyirami semua tanaman ayah dan ibu, dan membersihkan rumah kecilku ini. Belum ada tanda-tanda ibu memanggilku.
Tiba-tiba saja handphoneku berbunyi. Aneh. Handphoneku tak seperti biasanya yang begitu sunyi dan tak pernah terjamah. Keras dan nada itu semakin keras. Aku mengenalinya. Sepertinya itu nada panggilan masuk. Langsung saja ku sambar handphoneku yang berada diatas meja belajar.
Assalamualaikum”, jawabku dengan semangat juang yang luar biasa. Itu karena jarang sekali handphoneku berbunyi. Bahkan dijam-jam istirahatku hampir sama sekali tak ada yang mau menghubungiku. Aku pun tak tahu apa alasannya. Aku hanya merasa bahwa aku tak punya banyak teman bahkan sahabat sekali pun. Kecuali mereka keluargaku. Mungkin itu salah-satu penyebab handphoneku jarang sekali berbunyi.
Setelah ucapan salamku berakhir. Panggilan itu berubah menjadi hening. Tak ada jawaban dari penelpon. Sampai pada akhirnya panggilan tersebut terputus begitu saja. Rasa kesal mulai menghampiriku. Kejadian itu berulang sebanyak sepuluh kali. Aku pun tak mengetahui itu panggilan dari siapa. Nomornya baru. Untuk menghilangkan rasa bimbangku aku menganggap mungkin hanya orang yang salah sambung atau mungkin ada adik kecil yang sedang memainkan handphone orangtuanya secara sembunyi-bunyi. Iya itu alasan tepat untukku agar tidak sakit kepala memikirkannya. Aku memutuskan untuk mematikan handphoneku. Walaupun sebenarnya aku bisa mematikan nadanya saja dan membiarkan handphone itu tetap aktif diatas meja. Tapi, aku sudah kesal. Aku merasa terganggu. Aku takut akan kehilangan jam istirahatku.
Aku mulai merebahkan tubuhku yang nampaknya begitu letih. Hampir saja aku terlelap. Namun kemudian aku tertegun. Mataku tak mau berkedip. Aku lupa mengerjakan tugasku untuk besok. Terpaksa aku harus bangun. Membuang semua kemalasan dan mengerjakannya.
Sepertinya waktu istirahatku hari ini gagal”, gumamku kesal.
Aku menghampiri tas hitamku. Mengambil peralatan menulis dan buku tugasku. Kemudian duduk manis dimeja belajar hitamku.
Ayo semangat kiki semangat”, mencoba menyuntikan semangat kepada diri sendiri untuk  mengerjakan tugas.
Akhir-akhir ini tugas sekolah semakin bertambah banyak. Apalagi ujian tengah semester telah bersiap menyambut. Mungkin tugas anak SMA lebih banyak daripada anak SMP. Karena Dimas adikku hanya sibuk main, main, dan main. Jarang sekali melihatnya mengerjakan tugas. Apa mungkin saja dia malas mengerjakannya. Hanya ayah dan ibu yang bisa menjawab pertanyaanku ini.
Alarmku berbunyi. Ibu memanggilku. Waktunya aku untuk keluar dari persembunyianku. Waktu istirahatku yang mengecewakan. Tak banyak alasan. Aku langsung menemui ibu yang sedang semangat memasak. Ibuku memang sangat suka memasak. Terkadang melalaikan tugas yang lain. Kewajibanku sebagai anak wanita satu-satunya dirumah ini wajib mengerjakan tugas ibu yang terlalaikan. Aku bahagia melakukannya. Karena ibu selalu menghadiahkan makanan kesukaanku. Ibu selalu pintar meluluhkan hatiku.
Waktu terus berlalu. Hari pun terus berganti. Aku mulai bisa beradaptasi. Bahkan aku sekarang mempunyai teman. Walaupun hanya ada dua teman. Tak masalah. Itu perubahan yang baik. Aku semakin semangat untuk menyelesaikan sekolah menengahku ini. Kemudian aku akan merasakan bagaimana suasana bangku kuliahan.
Begitu cepat waktu bergulir. Satu bulan lagi aku akan menghadapi ujian kelulusan. Semua siswa mulai menyibukkan diri dengan belajar. Ada yang memilih mengikuti bimbingan belajar. Ada juga yang memilih belajar sendiri dengan buku-buku paket yang ada. Sedangkan aku memilih belajar secara berkelompok. Menurutku itu lebih asik, kita bisa bertukar pikiran. Aku dan dua temanku itu mulai membuat jadwal intensif untuk belajar. Sasaran tempat belajar kami adalah rumahku. Menurut kedua temanku itu si Fira dan Citra rumahku adalah rumah yang strategis dilihat dari letaknya dan rumah yang paling nyaman utnuk belajar. Aku tidak keberatan asal mereka mau belajar dikamarku yang bernuansa hitam itu.
“Hari ini jangan lupa kita belajar dirumah kiki jam 14.00”, tegas Fira sewaktu bel pulang berbunyi.
“Siap”, jawab Citra yang begitu antusias itu.
Aku pun mengangguk. Sebagai isyarat bahwa aku aku mendengar perbincangan mereka. Namun, tanpa kami sadari perbincangan kami diketahui orang lain. David mencoba mendengar perbincangan kami. David adalah orang aneh yang sering memanggilku dengan sebutan “Tam”. Sampai sekarang pun dia selalu memanggilku seperti itu. Terkadang aku ingin memarahinya agar dia tidak memanggilku “Tam” lagi. Aku malu. Menyapanya saja aku tak punya nyali apalagi untuk memarahinya. Dia juga bisa berubah dratis kalau bertemu denganku. Yang tadinya suka berkoar-koar saat aku berjumpa dengannya dia diam seperti patung. Bahkan terkadang dia lari sekencang-kencangnya. Mungkin dia takut dengan wajahku yang seperti ini. Selalu sinis menatapku. Sudahlah. Biarkan saja. Keanehan yang belum bisa terselesaikan.
“Aku mau ikut belajar kelompok juga dirumah si Tam”, dengan suara David yang khas itu terkesan memaksa untuk ikut.
“Boleh, boleh ikut aja, Vid”, jawab Fira dan Citra dengan begitu semangat.
“Terima kasih”, jawab David yang kemudian pergi entah kemana.
Kesal. Aku tidak diberi waktu untuk berbicara sedikit pun bahkan aku belum menyetujui David ikut kelompok belajarku. Dia begitu saja berlalu. Dua temanku pun langsung mengiyakan perkataan David. Mereka terlihat bahagia sekali David ikut bergabung. Tak enak hati jika aku harus melarang David. Aku hanya tak ingin ada orang aneh dirumahku.
Pukul 14.00 Fira dan Citra sudah berada didepan gerbang rumahku. Aku langsung menghampiri mereka dan mengajaknya masuk. Tak lama kemudian David datang. Aku kaget. Bagaimana bisa dia mengetahui rumahku padahal sebelumnya dia tak pernah kesini. Menurutku penampilan David aneh. Dia terlihat berbeda. Dia mengenakan baju kemeja berwarna merah jambu. Tanpa berpikir panjang lagi aku mengajak mereka belajar diruang keluargaku. Rencana awal gagal. Karena ada David kami terpaksa belajar diruang keluarga bukan dikamarku. Tak banyak yang David lakukan. Dia hanya banyak diam. Sesekali berbicara jika ada pelajaran yang tidak dia mengerti. Bahkan untuk sekedar bercanda pun tidak ada. Aku merasa tidak ada David diantara kami. Dia menjadi bisu.
            Hampir setiap pertemuan belajar kelompok David mengenakan kemeja berwarna merah jambu dengan motif yang berbeda-beda. Aku merasa bahwa David adalah pencinta warna merah jambu. Padahal dia kan laki-laki. Aku saja wanita suka warna hitam. Lagi-lagi aku memutuskan tidak ingin mencari alasan keanehan itu. Tingkah-laku David pun berbeda jauh antara dirumahku dan disekolah. Selama sebulan kami berempat selalu belajar bersama. Sampai pada pertemuan terakhir David memberikanku sesuatu yang aneh.
“Tam, ini aku ada sesuatu buat kamu”, sambil mengambil suatu kotak hadiah berwarna hitam dari dalam tasnya.
“Apa ini? Aku tidak berulangtahun hari ini”, aku merasa bingung.
“Ambillah kotak merah jambu itu, tolong jaga baik-baik”, kemudian dia pergi begitu saja.
            David meninggalkanku begitu saja. Dia benar-benar orang yang aneh. Aku mengira dulu hanya aku yang aneh tapi, David jauh lebih aneh. Kotak yang berwarna hitam dibilang kotak merah jambu. Aku tak tertarik untuk membukanya. Aku memutuskan untuk membuang kotak itu. Kotak tak penting.
            Waktu yang ditunggu-tunggu pun datang. Ujian kelulusan akan segera dimulai. Semua siswa duduk manis untuk mengerjakan soal demi soal begitu pun denganku. Aku mendapat ruang 2. Sedangkan Fira,Citra, dan David diruang 1. Jadi, selama ujian berlangsung aku jarang bertemu dengan mereka.
            Satu hari berlalu, dua hari berlalu, dan tiga hari berlalu. Ujian kelulusan telah usai. Tugasku berakhir. Sekarang aku hanya menunggu bagaimana hasil perjuanganku dan teman-temanku selama ini. Aku berharap semuanya bisa lulus dan aku bisa mendapatkan nilai terbaik. Setidaknya aku bisa membuat ayah dan ibu bangga kepadaku dengan hasil ujianku ini.
            Handphoneku berbunyi. Ayah menelpon memintaku untuk segera pulang. Padahal hari ini aku ada janji untuk pergi makan bersama Fira, Citra dan juga David. Aku gagalkan niatku. Aku harus pulang. Ayah membutuhkanku. Dengan berat hati, aku menemui Fira bahwa aku tidak bisa ikut. Fira berusaha keras mengajakku.
“Kiki, kamu harus ikut makan untuk hari ini saja”, desak Fira.
“Maaf, Fir. Aku tidak bisa. Ayah menelponku untuk segera pulang ada yang penting”, jawabku dengan wajah bingung.
Fira hanya menganggukkan kepalanya. Dia berharap aku bisa menyusul mereka. Tapi, aku harus tetap pulang. Pesan dari orangtua itu harus dipatuhi. Pesan ayah dan ibu kepada kami anak-anaknya yang selalu melekat dipikiranku.
            Sesampainya dirumah ayah tiba-tiba memeluk tubuhku begitu erat. Ayah  memelukku tanpa sepatah kata pun. Selama ini ayah tak pernah memelukku seerat ini. Ada apa dengan ayah. Aku hanya membiarkan ayah tetap memelukku. Aku melihat ada sesuatu. Tapi aku tak tahu apa itu.  Aku pun melihat disisi lain kakak dan adikku sedang duduk termenung disofa berwarna hitam. Aku mencoba mencari posisi ibu dimana. Tapi, aku tak menemui ibu disudut mana pun. Rasaku semakin penasaran. Ayah tak menjawab tanyaku. Begitu juga kakak dan adik. Sampai aku mengulang pertanyaan yang sama. Percuma. Semuanya tetap diam. Aku memutuskan untuk melepaskan pelukan ayah. Aku ingin mencari keberadaan ibu.
            Aku berharap ibu sedang beristirahat. Aku berharap ibu sedang tidur siang dikamarnya. Segera aku menuju kamar ayah dan ibu. Kosong. Tak ada satu orang pun. Dimana ibu. Aku tak berputus asa semua penjuru rumah aku telusuri. Hasilnya sama tak ku dapati ibu. Aku semakin panik.
            Hingga akhirnya kaki ini terasa gemetar, tubuhku lemas, dan pengelihatanku mulai hitam. Aku berusaha untuk bangkit. Gagal. Aku terjatuh.
“Sadar anakku, sadar”, suara ayah yang samar-samar terdengar ditelingaku.
Aku kehilangan keseimbangan. Aku melihat sesuatu yang begitu mengerikan. Aku melihat ibu. Aku melihatnya. Kemudian beliau menghilang.
            Aku pun tersadar. Aku mulai membuka kedua mataku. Ramai. Itu yang terlihat. Aku berdiri. Aku ingin tetap mencari ibu. Apapun caranya aku harus menemukan ibu. Ayah memegang tanganku.
“duduklah, nak. Itu ibumu”, dengan menghapus air mata yang menetes dipipinya.
Benar. Aku melihat ibu. Ibu yang selalu memasakan makanan kesukaanku. Ibu yang selalu tersenyum saat aku sedang panik. Tapi, aku hanya melihat ibu dalam kondisi diam. Apa yang terjadi pada ibu. Tak ada reaksi saat aku panggil.
“mungkin ibu terlalu lelah, jadi tidurnya begitu nyenyak”, aku berusaha untuk meyakinkan diriku bahwa sesuatu yang buruk tak terjadi.
Ayah memelukku lagi.
“Ibu, sudah tiada”, jawab ayah.
“Ayah bercanda”, aku menjawab dengan sedikit tawa.
Aku berlari dan memeluk ibu. Dingin. Tubuhnya begitu dingin. Bibirnya pucat. Aku berusaha memanggil dan membangunkannya. Tak ada respon. Bahkan tawanya tak lagi terlihat. Ketakutanku benar terjadi. Ibu pergi meninggalkanku. Ibu jahat. Aku tak percaya ibu meninggalkanku begitu cepat. Tak ada satu pun tanda bahwa ibu akan pergi. Pergi untuk selamanya. Tangisku mulai terdengar. Aku tak sanggup menahannya. Ayah, kakak dan adikku pun melakukan hal yang sama. Kami kehilangan bidadari.
Ayah mulai tegar. Ayah menjelaskan apa yang terjadi. Ibu tidak sakit. Ibu hanya permisi pada ayah untuk pergi kepasar. Kemudian sewaktu dipasar ibu jatuh pingsan. Ketika dibawa ke rumah sakit ibu sudah tak tertolong. Ibu benar-benar meninggalkanku untuk selamanya. Tak ada perkataan terakhir ibu untukku. Tak ada kata perpisahan itu.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa tanpa ibu. Ayah memutuskan untuk pindah ke luar kota. Ayah tak mau mengingat semua kenangan ibu dirumahku itu.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Kakakku sekarang sudah menikah bahkan dia akan segera mendapatkan . Adikku bahkan sedang merasakan bagaimana itu kuliah. Sedangkan, aku sekarang sudah menjadi sarjana muda. Aku bahagia dan bangga tamat dengan nilai terbaik. Ayah tak henti-hentinya memberikan ucapan selamat padaku. Aku sekarang sedang menunggu seseorang. Seseorang yang sudah berjanji akan menemuiku disaat aku sudah menjadi sarjana. David. Dia adalah orangnya.
Kotak hadiah yang berwarna hitam dan David mengatakannya kotak hadiah berwarna merah jambu itu ternyata masih ada. Ternyata ibu menyelamatkan bahkan menyimpannya dilemari pakaian adikku. Waktu itu aku sedang mengemas pakaian adikku untuk dibawa kerumah yang baru. Betapa kagetnya ternyata kotak itu masih ada. Dimas mengatakan bahwa ibu sengaja menyimpannya. Ini penting. Ibu menyuruh Dimas agar merahasiakannya dariku.
Karena penasaran aku membuka kotak hadiah hitam itu. Indah. Semua yang ada didalam kotak itu berwarna merah jambu. Ada kalung, cincin, dan gelang berwarna merah jambu. Aku tak pernah menyukai warna merah jambu. Tapi, begitu melihat semua itu aku tiba-tiba menyukainya. Bahkan yang lebih membuatku kaget didalam kotak tersebut terdapat dua buah surat. Tertulis namaku disana Zakiyah Kusuma Ramadhani.
Teruntuk bidadariku Zakiyah Kusuma Ramadhani
Kamu adalah wanita teraneh yang pernah aku temui. Tapi, karena itu aku menyukaimu. Dari awal kita bertemu rasa itu telah hadir hingga detik ini dan sampai kapan pun akan seperti itu. Aku berharap kamu bisa merasakan hal yang sama. Aku berharap kita bisa berjodoh. Maaf aku selalu memanggilmu dengan sebutan “Tam”. “Tam” itu berarti hitam. Wanita yang suka warna hitam. Aku tak banyak bisa berkata-kata didepanmu. Aku malu. Jadi aku terkesan sombong. Maaf juga waktu itu aku sering menelponmu. Aku sebenarnya ingin bicara padamu, ki tapi apalah daya aku tak bisa.
Aku memaksakan diri untuk bergabung belajar kelompok bersama kamu itu sengaja agar aku bisa lebih mengenalmu. Mungkin kamu merasa aneh mengapa aku selalu memakai kemeja berwarna merah muda saat belajar dirumahmu itu agar kamu bisa menyukai warna merah muda. Bahwa merah muda itu tidak sejelek yang kamu kira. Aku harap setelah membaca surat ini kamu bisa suka warna merah muda dia lebih indah dan lebih pantas untuk kamu bukan warna hitam. Jangan takut keramaian lagi ya.
Aku akan menemuimu disaat kamu sudah menyelesaikan kuliahmu, ki. Hubungi alamat email aku ya david@yahoo.com. Aku selalu menunggu balasan darimu.
Semangat ya.
Tertanda
David
            Surat pertama dari David. Orang yang selalu aku anggap aneh. Aku tak hentinya menghadirkan tawa saat membaca surat David. Dan surat yang kedua ternyata dari ibu. Ternyata ibu meninggalkan kata-kata perpisahan untukku.
Anakku tersayang Zakiyah Kusuma Ramadhani,
Ibu titip ayah, kakak, dan adikmu ya. Ibu tidak bisa selalu berada disisi kalian. Maaf ibu menyimpan kotak ini. Ibu penasaran. Ibu juga baca surat dari David. Dia menyukaimu, nak. Dia adalah anak yang baik. Ibu berharap dialah orang yang bisa menjadi pendampingmu kelak.
Kamu harus suka warna merah muda ya biar lebih kelihatan wanitanya. Hehehehe.....
Jangan suka warna hitam lagi. Dulu ayahmu menginginkan kamu menjadi wanita yang tomboy, ki. Jadi semua peralatanmu ayah belikan berwarna hitam agar kamu bisa menyukainya juga. Sampai-sampai si Temol motormu itu dibuat ayahmu menjadi warna hitam. Ibu tak pernah setuju. Tapi, ternyata kamu menyukai warna hitam.
Ibu sayang kalian. Tak boleh jadi anak yang cengeng ya.jadi anak yang kuat. Ibu pergi ya sayang.
            Dan surat kedua ternyata dari ibu. Sungguh dua surat yang memotivasi untukku berubah. Semenjak aku membaca kedua surat itu. Aku meninggalkan warna hitamku dan menghadirkan warna merah jambu. Aku menyukai warna itu. Ayah pun sekarang tak mempermasalahkannya lagi.

            Aku juga menyukai David. Dia adalah manusia aneh yang mampu membuatku berubah menjadi manusia normal. Tepat dihari perjanjian dalam surat itu aku menghubungi David via e-mail. Aku memberikan alamatku padanya. Dia hanya membalas “ tunggu aku” . Tak lupa aku kenakan semua aksesoris yang ada didalam kotak itu. Aku sudah lama sekali tak berjumpa dengannya. David tak berubah. Dia memakai kemeja berwarna merah jambu dan membawa rangkaian bunga mawar yang warnanya hampir sama dengan warna kemejamya. Dia melamarku.