Tengg...tengg....tengg...
Bunyi
yang kerap terdengar saat jam pelajaran usai. Seperti biasanya siswa-siswi
bersigap untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Bak tentara yang ingin maju ke
medan perang. Semuanya membeludak. Berbondong-bondong. Membuat area sekolah
menjadi sesak, padat bahkan tak terlihat ada ruang kosong disana. Aku mencoba
menghindarinya. Aku lebih memilih untuk bertahan diruangan kelas ini sampai
semuanya sepi. Dan semua sudut sekolah menjadi hening. Terkadang aku merasa
sedikit aneh pada diriku sendiri. Aku tak begitu tertarik dengan dunia luar
yang penuh keramaian.
“Apakah
ada yang sama sepertiku menghindari semua hal itu?” tanyaku sambil merenung.
Pertanyaan
yang selalu muncul didalam pikiranku setiap kali aku menunggu berakhirnya
keramaian. Tapi, aku selalu beranggapan bahwa itu hal yang wajar-wajar saja.
“Tam,
kamu mau menunggu sampai berapa lama lagi disini?” sahut temanku yang terlihat
terburu-buru ingin pulang.
“Sampai
semuanya sepi” jawabku sambil mengawasi keramaian yang nampaknya belum
berakhir.
Tanpa
ada jawaban temanku pergi entah kemana. Dia adalah orang yang selalu bertanya
setiap kali aku menunggu. Dia juga akan menghilang begitu saja. Terlihat aneh. Tapi,
aku tak tertarik untuk mencari alasannya karena menurutku itu tidak penting.
Dia selalu memanggil namaku dengan sebutan “Tam”. Itu panggilan teraneh. Tak
ada satupun orang yang memanggilku
seperti itu. Dan tanpa seizinku dia tetap memanggilku “Tam”. Aku pun terpaksa
menyetujuinya. Lupakan saja dia.
Namaku
sebenarnya adalah Zakiyah Kusuma Ramadhani. Aku adalah anak kedua dari pasangan
Pak Cahyo Kusuma dan Ibu Widiasti Wijaya. Aku mempunyai seorang kakak yang
bernama Baskoro Wijaya. Kakakku adalah pemain basket terhandal di sekolahnya.
Selalu mengikuti turnamen dan dia berhasil menjadi pemain terbaik. Kakak yang
hebat dan selalu menjadi kebanggaanku. Sedangkan adikku bernama Dimas Wijaya.
Dia adalah master matematika disekolahnya. Dia pun sering memenangkan
olimpiade. Terakhir kemarin dia ikut olimpiade sampai keluar negeri. Semua anak
ayah dan ibu berprestasi tapi, bagaimana denganku. Aku tak mempunyai prestasi
yang harus dibanggakan. Sedih. Aku berharap suatu saat aku akan menemukannya. Keluargaku
dan teman-teman yang lain biasa memanggilku dengan sebutan “Kiki” atau “Iyah”.
Aku selalu tampil apa adanya dan tidak suka keramaian. Ya, keramaian.
Nampaknya
matahari semakin menyala-nyala. Hampir saja mengeluarkan semua tenaganya.
Sehingga ketika sang matahari mengenai kulit bisa merubahnya menjadi lebih
gelap. Semuanya telah lenyap. Keramaian itu berakhir. Huh. Waktunya untuk
pulang.
Sepeda
motorku masih tertata rapi diparkiran. Letaknya pun masih sama persis seperti
pagi tadi ketika aku memarkirkannya. Dengan berlenggok-lenggok sambil bernyanyi
kecil aku menghampiri sepeda motorku. Temol. Itu nama sepeda motor
kesayanganku. Warnanya hitam. Ayah sengaja mengganti semua warna yang ada dimotorku
menjadi hitam. Hingga sekarang aku tak pernah tahu apa alasannya. Aku hanya
menerima saja. Sebab sepeda motor itu dibeli menggunakan uang ayah. Aku pun
juga menyukai warna itu. Tak ada masalah. Tak ketinggalan helm ku pun berwarna
hitam. Semua barang-barangku kebanyakan berwarna hitam. Walaupun aku ini wanita.
“Ayo
sayang kita pulang, aku sudah tak sabar menyiyipi masakan ibu hari ini” dengan
semangat yang membara-bara sambil melirik si Temol motor hitam kesayanganku.
Laju
sepeda motorku begitu kencang. Maklum saja hari sudah semakin siang dan gerakan
dari cacing-cacing diperut membuatku sedikit panik. Mungkin seandainya cacing-cacing
itu bisa berbicara tentunya dia akan marah. Bahkan bisa saja mengngamuk. Lapar.
Lapar. Tapi memang Tuhan itu Maha Adil. Semuanya sudah berjalan dengan
sewajarnya.
Tanpa
banyak basa-basi aku letakkan saja si Temol dikamarnya. Garasi. Kemudian
melepaskan kedua kaoskaki hitamku. Meletakkan tas hitamku. Dan mengganti
seragamku dengan kaos berlengan panjang berwarna hitam. Semuanya telah siap.
Saatnya aku menghampiri ruangan kesukaanku. Ruang makan. Hmmmmm.
Makan,
makan dan makan. Hanya itu yang ada dipikiranku saat masih disekolah tadi. Benar
saja ayah, ibu, kakak, dan adikku sudah menunggu kedatanganku. Kami memang
sering melakukan makan bersama. Walau terkadang makan sendiri-sendiri pun tak
masalah. Yang penting harus makan. Itu pesan ayah dan ibu yang wajib dan harus
dipatuhi. Jika tidak kami harus menerima konsekuensi. Kami mendapat hukuman.
Yaitu harus melakukan semua pekerjaan ibu. Tak ada pengecualian. Itu perjanjian.
Jadi, harus dilaksanakan.
Nampaknya
makan siang kali ini ayah memilih topik untuk membicarakan aku. Walau
sebenarnya aku sedikit kesal. Apa yang bisa aku perbuat. Aku pura-pura saja
tidak mendengar perkataan ayah yang mulai mengarah kepadaku itu. Aku masih
sibuk menyantap soto ayam buatan ibu yang tiada tandingannya itu. Namun, ayah
tidak pantang menyerah. Ayah melakukan genjatan senjata secara liar. Aku
bagaikan terperangkap jebakan ayah. Aku pasrah. Aku tidak berontak. Menyerah.
Ayah berhasil.
Setiap
kali aku menjawab pertanyaan-pertanyaan ayah yang sepertinya memojokkan aku dan
mengolok-olokku itu selalu terdengar tawa yang samar-samar. Tak lain dan tak
bukan itu tawa dari ibu, kakak dan adikku. Mereka berharap akan mendapat
hiburan saat makan siang. Memang setiap kali aku yang menjadi topik pembicaraan,
mereka semua terlihat begitu bahagia. Iya. Bahagia karena bisa menertawai aku.
Menertawai nasibku yang penuh keanehan.
“Bagaimana
sekolahnya tadi anak kesayangan ayah? Apa ada keanehan lagi?” ayah melanjutkan
pertanyaannya sambil menahan tawanya.
“Ayah,
aku kan sudah besar jangan panggil seperti itu lagi. Hari ini tidak ada yang
aneh” aku mulai terpojokan dan aku berusaha ingin mengakhiri perbincangan ini.
Ayah
selalu memanggilku dengan sebutan anak kesayangannya. Lagi-lagi tawa itu
terdengar olehku, namun kali ini lebih keras. Memang diantara anak ayah dan ibu
akulah yang sedikit manja. Hanya sedikit. Aku lebih suka menghabiskan waktu
bersama ayah dan ibu dibanding bersama kakak, adik bahkan temanku.
Selama
perbincangan itu berlangsung mereka hanya membahas bahwa aku adalah anak mereka
yang paling cantik. Bagaimana tidak kakak dan adikku itu kan anak laki-laki. Konyol.
Sesuatu yang sangat tidak penting untuk dibahas. Aku hanya duduk terpaku.
Melihat soto ku yang sudah tak bersisa membuatku semakin bosan. Aku ingin lari.
Yah,
aku permisi ke kamar mandi. Sakit perut.”aku mencoba mencari-cari alasan. Aku
berdiri sambil memegangi perutku agar penyamaranku berjalan lancar.
Ayah,
bohong itu dosa kan?” ibu menjawab dengan sedikit nada menyindir.
Iya
dosa besar, Bu” ayah menjawab penuh dengan semangat.
Niat
jahatku ini rupanya telah diketahui ibu. Gagal. Aku memutuskan untuk tetap
bertahan.
Ya
sudah kalau begitu hari sudah semakin siang. Ayo bantu ibu kalian membereskan
tempat makan ini. Setelah itu jangan lupa kewajiban kalian shalat dzuhurnya,”
ujar ayah untuk mengakhiri perbincangan yang aneh.
Akhirnya
Tuhan mengabulkan permohonanku. Perbincangan kali ini berakhir begitu cepat.
Mungkin Ayah sudah menyadari tingkahku yang semakin bosan mendengar
perbincangan itu. Terima kasih ayah. Betapa bahagianya. Aku terbebas.
Semua
tugas telah selesai aku laksanakan. Saatnya aku bermalas-malasan dikamarku yang
bernuansa hitam. Aku selalu melakukan ini setiap hari. Menghabiskan waktuku
dikamar sampai ibu memanggilku untuk melaksanakan tugas soreku. Menyapu
halaman, menyirami semua tanaman ayah dan ibu, dan membersihkan rumah kecilku ini.
Belum ada tanda-tanda ibu memanggilku.
Tiba-tiba
saja handphoneku berbunyi. Aneh. Handphoneku tak seperti biasanya yang begitu
sunyi dan tak pernah terjamah. Keras dan nada itu semakin keras. Aku mengenalinya.
Sepertinya itu nada panggilan masuk. Langsung saja ku sambar handphoneku yang
berada diatas meja belajar.
Assalamualaikum”,
jawabku dengan semangat juang yang luar biasa. Itu karena jarang sekali
handphoneku berbunyi. Bahkan dijam-jam istirahatku hampir sama sekali tak ada
yang mau menghubungiku. Aku pun tak tahu apa alasannya. Aku hanya merasa bahwa
aku tak punya banyak teman bahkan sahabat sekali pun. Kecuali mereka
keluargaku. Mungkin itu salah-satu penyebab handphoneku jarang sekali berbunyi.
Setelah
ucapan salamku berakhir. Panggilan itu berubah menjadi hening. Tak ada jawaban
dari penelpon. Sampai pada akhirnya panggilan tersebut terputus begitu saja. Rasa
kesal mulai menghampiriku. Kejadian itu berulang sebanyak sepuluh kali. Aku pun
tak mengetahui itu panggilan dari siapa. Nomornya baru. Untuk menghilangkan
rasa bimbangku aku menganggap mungkin hanya orang yang salah sambung atau
mungkin ada adik kecil yang sedang memainkan handphone orangtuanya secara
sembunyi-bunyi. Iya itu alasan tepat untukku agar tidak sakit kepala
memikirkannya. Aku memutuskan untuk mematikan handphoneku. Walaupun sebenarnya
aku bisa mematikan nadanya saja dan membiarkan handphone itu tetap aktif diatas
meja. Tapi, aku sudah kesal. Aku merasa terganggu. Aku takut akan kehilangan jam
istirahatku.
Aku
mulai merebahkan tubuhku yang nampaknya begitu letih. Hampir saja aku terlelap.
Namun kemudian aku tertegun. Mataku tak mau berkedip. Aku lupa mengerjakan
tugasku untuk besok. Terpaksa aku harus bangun. Membuang semua kemalasan dan
mengerjakannya.
Sepertinya
waktu istirahatku hari ini gagal”, gumamku kesal.
Aku
menghampiri tas hitamku. Mengambil peralatan menulis dan buku tugasku. Kemudian
duduk manis dimeja belajar hitamku.
Ayo
semangat kiki semangat”, mencoba menyuntikan semangat kepada diri sendiri untuk
mengerjakan tugas.
Akhir-akhir
ini tugas sekolah semakin bertambah banyak. Apalagi ujian tengah semester telah
bersiap menyambut. Mungkin tugas anak SMA lebih banyak daripada anak SMP.
Karena Dimas adikku hanya sibuk main, main, dan main. Jarang sekali melihatnya
mengerjakan tugas. Apa mungkin saja dia malas mengerjakannya. Hanya ayah dan
ibu yang bisa menjawab pertanyaanku ini.
Alarmku
berbunyi. Ibu memanggilku. Waktunya aku untuk keluar dari persembunyianku.
Waktu istirahatku yang mengecewakan. Tak banyak alasan. Aku langsung menemui
ibu yang sedang semangat memasak. Ibuku memang sangat suka memasak. Terkadang
melalaikan tugas yang lain. Kewajibanku sebagai anak wanita satu-satunya
dirumah ini wajib mengerjakan tugas ibu yang terlalaikan. Aku bahagia
melakukannya. Karena ibu selalu menghadiahkan makanan kesukaanku. Ibu selalu
pintar meluluhkan hatiku.
Waktu
terus berlalu. Hari pun terus berganti. Aku mulai bisa beradaptasi. Bahkan aku
sekarang mempunyai teman. Walaupun hanya ada dua teman. Tak masalah. Itu
perubahan yang baik. Aku semakin semangat untuk menyelesaikan sekolah
menengahku ini. Kemudian aku akan merasakan bagaimana suasana bangku kuliahan.
Begitu
cepat waktu bergulir. Satu bulan lagi aku akan menghadapi ujian kelulusan.
Semua siswa mulai menyibukkan diri dengan belajar. Ada yang memilih mengikuti
bimbingan belajar. Ada juga yang memilih belajar sendiri dengan buku-buku paket
yang ada. Sedangkan aku memilih belajar secara berkelompok. Menurutku itu lebih
asik, kita bisa bertukar pikiran. Aku dan dua temanku itu mulai membuat jadwal
intensif untuk belajar. Sasaran tempat belajar kami adalah rumahku. Menurut
kedua temanku itu si Fira dan Citra rumahku adalah rumah yang strategis dilihat
dari letaknya dan rumah yang paling nyaman utnuk belajar. Aku tidak keberatan
asal mereka mau belajar dikamarku yang bernuansa hitam itu.
“Hari
ini jangan lupa kita belajar dirumah kiki jam 14.00”, tegas Fira sewaktu bel
pulang berbunyi.
“Siap”,
jawab Citra yang begitu antusias itu.
Aku
pun mengangguk. Sebagai isyarat bahwa aku aku mendengar perbincangan mereka.
Namun, tanpa kami sadari perbincangan kami diketahui orang lain. David mencoba
mendengar perbincangan kami. David adalah orang aneh yang sering memanggilku
dengan sebutan “Tam”. Sampai sekarang pun dia selalu memanggilku seperti itu.
Terkadang aku ingin memarahinya agar dia tidak memanggilku “Tam” lagi. Aku
malu. Menyapanya saja aku tak punya nyali apalagi untuk memarahinya. Dia juga bisa
berubah dratis kalau bertemu denganku. Yang tadinya suka berkoar-koar saat aku
berjumpa dengannya dia diam seperti patung. Bahkan terkadang dia lari
sekencang-kencangnya. Mungkin dia takut dengan wajahku yang seperti ini. Selalu
sinis menatapku. Sudahlah. Biarkan saja. Keanehan yang belum bisa
terselesaikan.
“Aku
mau ikut belajar kelompok juga dirumah si Tam”, dengan suara David yang khas
itu terkesan memaksa untuk ikut.
“Boleh,
boleh ikut aja, Vid”, jawab Fira dan Citra dengan begitu semangat.
“Terima
kasih”, jawab David yang kemudian pergi entah kemana.
Kesal.
Aku tidak diberi waktu untuk berbicara sedikit pun bahkan aku belum menyetujui
David ikut kelompok belajarku. Dia begitu saja berlalu. Dua temanku pun
langsung mengiyakan perkataan David. Mereka terlihat bahagia sekali David ikut
bergabung. Tak enak hati jika aku harus melarang David. Aku hanya tak ingin ada
orang aneh dirumahku.
Pukul
14.00 Fira dan Citra sudah berada didepan gerbang rumahku. Aku langsung
menghampiri mereka dan mengajaknya masuk. Tak lama kemudian David datang. Aku
kaget. Bagaimana bisa dia mengetahui rumahku padahal sebelumnya dia tak pernah
kesini. Menurutku penampilan David aneh. Dia terlihat berbeda. Dia mengenakan
baju kemeja berwarna merah jambu. Tanpa berpikir panjang lagi aku mengajak mereka
belajar diruang keluargaku. Rencana awal gagal. Karena ada David kami terpaksa
belajar diruang keluarga bukan dikamarku. Tak banyak yang David lakukan. Dia
hanya banyak diam. Sesekali berbicara jika ada pelajaran yang tidak dia
mengerti. Bahkan untuk sekedar bercanda pun tidak ada. Aku merasa tidak ada
David diantara kami. Dia menjadi bisu.
Hampir setiap pertemuan belajar
kelompok David mengenakan kemeja berwarna merah jambu dengan motif yang
berbeda-beda. Aku merasa bahwa David adalah pencinta warna merah jambu. Padahal
dia kan laki-laki. Aku saja wanita suka warna hitam. Lagi-lagi aku memutuskan
tidak ingin mencari alasan keanehan itu. Tingkah-laku David pun berbeda jauh
antara dirumahku dan disekolah. Selama sebulan kami berempat selalu belajar bersama.
Sampai pada pertemuan terakhir David memberikanku sesuatu yang aneh.
“Tam,
ini aku ada sesuatu buat kamu”, sambil mengambil suatu kotak hadiah berwarna
hitam dari dalam tasnya.
“Apa
ini? Aku tidak berulangtahun hari ini”, aku merasa bingung.
“Ambillah
kotak merah jambu itu, tolong jaga baik-baik”, kemudian dia pergi begitu saja.
David meninggalkanku begitu saja.
Dia benar-benar orang yang aneh. Aku mengira dulu hanya aku yang aneh tapi,
David jauh lebih aneh. Kotak yang berwarna hitam dibilang kotak merah jambu.
Aku tak tertarik untuk membukanya. Aku memutuskan untuk membuang kotak itu.
Kotak tak penting.
Waktu yang ditunggu-tunggu pun
datang. Ujian kelulusan akan segera dimulai. Semua siswa duduk manis untuk
mengerjakan soal demi soal begitu pun denganku. Aku mendapat ruang 2. Sedangkan
Fira,Citra, dan David diruang 1. Jadi, selama ujian berlangsung aku jarang
bertemu dengan mereka.
Satu hari berlalu, dua hari berlalu,
dan tiga hari berlalu. Ujian kelulusan telah usai. Tugasku berakhir. Sekarang
aku hanya menunggu bagaimana hasil perjuanganku dan teman-temanku selama ini.
Aku berharap semuanya bisa lulus dan aku bisa mendapatkan nilai terbaik.
Setidaknya aku bisa membuat ayah dan ibu bangga kepadaku dengan hasil ujianku
ini.
Handphoneku berbunyi. Ayah menelpon
memintaku untuk segera pulang. Padahal hari ini aku ada janji untuk pergi makan
bersama Fira, Citra dan juga David. Aku gagalkan niatku. Aku harus pulang. Ayah
membutuhkanku. Dengan berat hati, aku menemui Fira bahwa aku tidak bisa ikut.
Fira berusaha keras mengajakku.
“Kiki,
kamu harus ikut makan untuk hari ini saja”, desak Fira.
“Maaf,
Fir. Aku tidak bisa. Ayah menelponku untuk segera pulang ada yang penting”,
jawabku dengan wajah bingung.
Fira
hanya menganggukkan kepalanya. Dia berharap aku bisa menyusul mereka. Tapi, aku
harus tetap pulang. Pesan dari orangtua itu harus dipatuhi. Pesan ayah dan ibu
kepada kami anak-anaknya yang selalu melekat dipikiranku.
Sesampainya dirumah ayah tiba-tiba
memeluk tubuhku begitu erat. Ayah
memelukku tanpa sepatah kata pun. Selama ini ayah tak pernah memelukku
seerat ini. Ada apa dengan ayah. Aku hanya membiarkan ayah tetap memelukku. Aku
melihat ada sesuatu. Tapi aku tak tahu apa itu. Aku pun melihat disisi lain kakak dan adikku sedang
duduk termenung disofa berwarna hitam. Aku mencoba mencari posisi ibu dimana.
Tapi, aku tak menemui ibu disudut mana pun. Rasaku semakin penasaran. Ayah tak
menjawab tanyaku. Begitu juga kakak dan adik. Sampai aku mengulang pertanyaan
yang sama. Percuma. Semuanya tetap diam. Aku memutuskan untuk melepaskan
pelukan ayah. Aku ingin mencari keberadaan ibu.
Aku berharap ibu sedang
beristirahat. Aku berharap ibu sedang tidur siang dikamarnya. Segera aku menuju
kamar ayah dan ibu. Kosong. Tak ada satu orang pun. Dimana ibu. Aku tak
berputus asa semua penjuru rumah aku telusuri. Hasilnya sama tak ku dapati ibu.
Aku semakin panik.
Hingga akhirnya kaki ini terasa
gemetar, tubuhku lemas, dan pengelihatanku mulai hitam. Aku berusaha untuk
bangkit. Gagal. Aku terjatuh.
“Sadar
anakku, sadar”, suara ayah yang samar-samar terdengar ditelingaku.
Aku
kehilangan keseimbangan. Aku melihat sesuatu yang begitu mengerikan. Aku
melihat ibu. Aku melihatnya. Kemudian beliau menghilang.
Aku pun tersadar. Aku mulai membuka
kedua mataku. Ramai. Itu yang terlihat. Aku berdiri. Aku ingin tetap mencari
ibu. Apapun caranya aku harus menemukan ibu. Ayah memegang tanganku.
“duduklah,
nak. Itu ibumu”, dengan menghapus air mata yang menetes dipipinya.
Benar.
Aku melihat ibu. Ibu yang selalu memasakan makanan kesukaanku. Ibu yang selalu
tersenyum saat aku sedang panik. Tapi, aku hanya melihat ibu dalam kondisi
diam. Apa yang terjadi pada ibu. Tak ada reaksi saat aku panggil.
“mungkin
ibu terlalu lelah, jadi tidurnya begitu nyenyak”, aku berusaha untuk meyakinkan
diriku bahwa sesuatu yang buruk tak terjadi.
Ayah
memelukku lagi.
“Ibu,
sudah tiada”, jawab ayah.
“Ayah
bercanda”, aku menjawab dengan sedikit tawa.
Aku
berlari dan memeluk ibu. Dingin. Tubuhnya begitu dingin. Bibirnya pucat. Aku
berusaha memanggil dan membangunkannya. Tak ada respon. Bahkan tawanya tak lagi
terlihat. Ketakutanku benar terjadi. Ibu pergi meninggalkanku. Ibu jahat. Aku
tak percaya ibu meninggalkanku begitu cepat. Tak ada satu pun tanda bahwa ibu
akan pergi. Pergi untuk selamanya. Tangisku mulai terdengar. Aku tak sanggup
menahannya. Ayah, kakak dan adikku pun melakukan hal yang sama. Kami kehilangan
bidadari.
Ayah
mulai tegar. Ayah menjelaskan apa yang terjadi. Ibu tidak sakit. Ibu hanya
permisi pada ayah untuk pergi kepasar. Kemudian sewaktu dipasar ibu jatuh
pingsan. Ketika dibawa ke rumah sakit ibu sudah tak tertolong. Ibu benar-benar
meninggalkanku untuk selamanya. Tak ada perkataan terakhir ibu untukku. Tak ada
kata perpisahan itu.
Seiring
berjalannya waktu, aku mulai terbiasa tanpa ibu. Ayah memutuskan untuk pindah
ke luar kota. Ayah tak mau mengingat semua kenangan ibu dirumahku itu.
Hari
berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun berganti
tahun. Kakakku sekarang sudah menikah bahkan dia akan segera mendapatkan .
Adikku bahkan sedang merasakan bagaimana itu kuliah. Sedangkan, aku sekarang
sudah menjadi sarjana muda. Aku bahagia dan bangga tamat dengan nilai terbaik.
Ayah tak henti-hentinya memberikan ucapan selamat padaku. Aku sekarang sedang
menunggu seseorang. Seseorang yang sudah berjanji akan menemuiku disaat aku
sudah menjadi sarjana. David. Dia adalah orangnya.
Kotak
hadiah yang berwarna hitam dan David mengatakannya kotak hadiah berwarna merah
jambu itu ternyata masih ada. Ternyata ibu menyelamatkan bahkan menyimpannya
dilemari pakaian adikku. Waktu itu aku sedang mengemas pakaian adikku untuk
dibawa kerumah yang baru. Betapa kagetnya ternyata kotak itu masih ada. Dimas
mengatakan bahwa ibu sengaja menyimpannya. Ini penting. Ibu menyuruh Dimas agar
merahasiakannya dariku.
Karena
penasaran aku membuka kotak hadiah hitam itu. Indah. Semua yang ada didalam
kotak itu berwarna merah jambu. Ada kalung, cincin, dan gelang berwarna merah
jambu. Aku tak pernah menyukai warna merah jambu. Tapi, begitu melihat semua
itu aku tiba-tiba menyukainya. Bahkan yang lebih membuatku kaget didalam kotak
tersebut terdapat dua buah surat. Tertulis namaku disana Zakiyah Kusuma
Ramadhani.
Teruntuk bidadariku Zakiyah Kusuma
Ramadhani
Kamu adalah wanita teraneh yang
pernah aku temui. Tapi, karena itu aku menyukaimu. Dari awal kita bertemu rasa
itu telah hadir hingga detik ini dan sampai kapan pun akan seperti itu. Aku
berharap kamu bisa merasakan hal yang sama. Aku berharap kita bisa berjodoh.
Maaf aku selalu memanggilmu dengan sebutan “Tam”. “Tam” itu berarti hitam.
Wanita yang suka warna hitam. Aku tak banyak bisa berkata-kata didepanmu. Aku
malu. Jadi aku terkesan sombong. Maaf juga waktu itu aku sering menelponmu. Aku
sebenarnya ingin bicara padamu, ki tapi apalah daya aku tak bisa.
Aku memaksakan diri untuk bergabung
belajar kelompok bersama kamu itu sengaja agar aku bisa lebih mengenalmu.
Mungkin kamu merasa aneh mengapa aku selalu memakai kemeja berwarna merah muda
saat belajar dirumahmu itu agar kamu bisa menyukai warna merah muda. Bahwa
merah muda itu tidak sejelek yang kamu kira. Aku harap setelah membaca surat
ini kamu bisa suka warna merah muda dia lebih indah dan lebih pantas untuk kamu
bukan warna hitam. Jangan takut keramaian lagi ya.
Aku akan menemuimu disaat kamu
sudah menyelesaikan kuliahmu, ki. Hubungi alamat email aku ya david@yahoo.com. Aku
selalu menunggu balasan darimu.
Semangat ya.
Tertanda
David
Surat pertama dari David. Orang yang
selalu aku anggap aneh. Aku tak hentinya menghadirkan tawa saat membaca surat
David. Dan surat yang kedua ternyata dari ibu. Ternyata ibu meninggalkan
kata-kata perpisahan untukku.
Anakku tersayang Zakiyah Kusuma
Ramadhani,
Ibu titip ayah, kakak, dan adikmu
ya. Ibu tidak bisa selalu berada disisi kalian. Maaf ibu menyimpan kotak ini.
Ibu penasaran. Ibu juga baca surat dari David. Dia menyukaimu, nak. Dia adalah
anak yang baik. Ibu berharap dialah orang yang bisa menjadi pendampingmu kelak.
Kamu harus suka warna merah muda ya
biar lebih kelihatan wanitanya. Hehehehe.....
Jangan suka warna hitam lagi. Dulu
ayahmu menginginkan kamu menjadi wanita yang tomboy, ki. Jadi semua peralatanmu
ayah belikan berwarna hitam agar kamu bisa menyukainya juga. Sampai-sampai si
Temol motormu itu dibuat ayahmu menjadi warna hitam. Ibu tak pernah setuju.
Tapi, ternyata kamu menyukai warna hitam.
Ibu sayang kalian. Tak boleh jadi
anak yang cengeng ya.jadi anak yang kuat. Ibu pergi ya sayang.
Dan surat kedua ternyata dari ibu.
Sungguh dua surat yang memotivasi untukku berubah. Semenjak aku membaca kedua
surat itu. Aku meninggalkan warna hitamku dan menghadirkan warna merah jambu.
Aku menyukai warna itu. Ayah pun sekarang tak mempermasalahkannya lagi.
Aku juga menyukai David. Dia adalah
manusia aneh yang mampu membuatku berubah menjadi manusia normal. Tepat dihari
perjanjian dalam surat itu aku menghubungi David via e-mail. Aku memberikan
alamatku padanya. Dia hanya membalas “ tunggu aku” . Tak lupa aku kenakan semua
aksesoris yang ada didalam kotak itu. Aku sudah lama sekali tak berjumpa
dengannya. David tak berubah. Dia memakai kemeja berwarna merah jambu dan
membawa rangkaian bunga mawar yang warnanya hampir sama dengan warna kemejamya.
Dia melamarku.